Clara Kriswanto: “Membatik Bisa Untuk Therapeutic Art”

Kerja Nyata!

Demikian tema peringatan hari Kemerdekaan Indonesia tahun ini.

Dan Clara Kriswanto, telah merealisasikannya sejak 5 tahun lalu di British Columbia, bersama OMNITA, an Indonesian Cultural Arts Organization, yang didirikannya.

Berikut hasil wawancara tertulis dengan beliau:

 

Dapatkah Ibu menceritakan tentang Festival di Cranbrook yang diikuti OMNITA beberapa waktu lalu?

 

Cranbrook Multicultural Festival adalah Festival multikultural yang diadakan setiap tahun di kota Cranbrook dan tahun ini adalah tahun ke tiga.

Penyelenggaranya adalah CMCS (Cranbrook Multi-Cultural Society).

Batik Exhibition kemarin menjadi acara pembuka Festivalnya itu sendiri.

Pameran diadakan pada hari Jumat, 19 Agustus 2016 dan Festivalnya pada hari Sabtu, 20 Agustus 2016. Pada acara Pameran diadakan juga presentasi tentang proses pembuatan batik dan kegiatan membatik. Pengunjung yang berjumlah sekitar 50-an orang semua bersemangat untuk mencoba menggunakan canting yang berisi malam pada disain gambar yang mereka buat.

 

Sudah kali ke berapa OMNITA menjadi peserta pada Festival di Cranbrook?

Festival tahun 2016 ini adalah untuk yang pertama kalinya OMNITA ikuti mewakili Indonesia, karena memang baru pertama kalinya Indonesia berpartisipasi.

Indonesia di Cranbrook dan sekitarnya memang hanya berjumlah kurang dari 20 orang, itupun terpencar di beberapa kota di sekitarnya.

Di booth Indonesia, selain hasil kerajinan karya para pengrajin lokal dari berbagai daerah di Indonesia disuguhkan pula hidangan khas Indonesia sate ayam, rendang, dan lontong yang dimasak oleh seorang warga Indonesia di sana.

Dalam waktu singkat makanan habis, bahkan ada beberapa orang pengunjung yang bolak-balik ke booth untuk membeli dan menikmati rendang lagi.

 

Secara keseluruhan, berapa kali OMNITA berpartisipasi pada Pameran atau Festival?

Dan sejak kapan?

Sejak tahun 2012.

OMNITA sangat bersyukur mendapat kepercayaan dan kesempatan untuk ikut aktif terlibat dalam berbagai kegiatan multikultural Festival dan Pameran dengan dukungan penuh dari KJRI, ITPC, Permai BC, komunitas Indonesia sendiri, komunitas multikultural serta masyarakat lokal.

Yang sudah pernah diikuti antara lain adalah Surrey Fusion Festival setiap tahun sejak 2012;

Remarkable Indonesia Business Forum yang diadakan oleh KJRI & ITPC tahun 2013, 2014, 2015; Indonesia Day tahun 2012 & 2013 yang diselenggarakan oleh PermaiBC;

Multicultural Festival yang diselenggarakan oleh VAHMS (Vancouver Asian Heritage Multicultural Society) tahun 2013, 2014, 2015;

Multicultural Festival yang diselenggarakan oleh City of Port Coquitlam tahun 2013;

Destination Indonesia 2013, 2014 serta berbagai Gift Expo tahun 2013, 2014, 2015.

Dan yang terakhir ini Cranbrook Multicultural Festival 2016.

Selain dalam bentuk pameran batik dan kain tradisional Indonesia, bentuk partisipasi lainnya adalah pameran foto dan screening film yang diproduksi oleh OMNITA.

Film pendek Dalang Kecil dan film Nagasari juga telah screening di Jakarta dan Yogyakarta dan memenangkan penghargaan di beberapa festival film.

 

Apakah ada alasan tertentu yang khusus bagi Ibu dan OMNITA untuk berperan serta pada Festival/Pameran?

Saya bukan seorang ahli wastra, saya bukan seorang seniman, saya tidak cukup banyak memiliki keterampilan berkesenian, saya bukan siapa-siapa.

Hanya ada hasrat dan dorongan yang sangat kuat dari dalam diri saya untuk selalu terlibat aktif dalam dinamika kehidupan dimana saya berada.

Ketika saya berada jauh dari tanah air, dorongan itu semakin besar – bagaimana saya dapat berperan aktif di dalam masyarakat multikultural dengan sekaligus tetap dapat melestarikan warisan budaya leluhur, termasuk juga kain-kain tradisionalnya.

Dan melalui berbagai pameran/festival inilah saya dapat lebih mengenalkan Indonesia kepada dunia.

 

Mengapa Batik ?

Sebagai orang Jawa, sejak kecil saya sudah diperkenalkan pada batik oleh orangtua dan kakek & nenek saya. Dari sinilah tumbuh kecintaan terhadap batik. Saya banyak diajarkan (bahkan sampai sekarang masih terus ingin belajar) tentang makna filosofis dari setiap motif kain batik.

Batik yang merupakan ekspresi budaya yang punya makna simbolik yang unik dan luhur, patut dipelajari, dimengerti, dan dilestarikan.

Karena itulah seperti sudah kita ketahui bersama, pada 2 Oktober tahun 2009 batik dinobatkan sebagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO.

Nah, peran serta semua insan semakin sangat diharapkan.

 

Batik seperti apa yang menjadi cinta pertama Ibu? Mengapa?

Apakah Batik tersebut masih ada (masih disimpan)?

Masing-masing motif batik sarat makna.

Memang yang pertama saya belajar membuatnya adalah motif KAWUNG, yang sangat sederhana tetapi ternyata mengandung nilai filosofis yang dalam.

Saya mengutip dari pendapat seorang pembatik senior dan wastra prema (pecinta kain tradisional) dari Keraton Yogyakarta, yang mengatakan bahwa motif Kawung ada sejak abad 13.

Motif bentuk geometrik dengan pola lonjong yang saling bergandengan melambangkan kejujuran, kesetiaan, dan keluhuran membentuk upaya yang berkelanjutan.

Yang saya kagumi juga dan masih saya simpan adalah kain batik motif SIDA (bac: Sido) ASIH.

Filosofinya dalam dan indah, yaitu harapan agar tercipta kedamaian di dunia ini dengan adanya rasa saling sayang menyayangi dan mencintai satu sama lain.

Pemberian dari Eyang Putri saya yang baru saja wafat 3 tahun yang lalu dalam usia 101 tahun.

 

Indonesia memiliki banyak ragam Batik, warna serta corak yang berbeda.

Batik dari mana yang menjadi favourite Ibu?

Secara garis besar batik dibagi 2 dari sejarah perkembangannya, yaitu Batik Pesisiran dan Batik Pedalaman/Batik Kraton.

Batik Pesisiran yang berasal dari kota-kota di pesisir pantai Utara Jawa mendapat pengaruh dari beberapa negara pada motif-motifnya. Misalnya motif buket (bouquet) dari Eropa, motif hewan seperti naga dan burung merak dari Cina, dan lain-lain.

Sedangkan Batik Pedalaman banyak diciptakan oleh Raja-Raja Mataram dan ada beberapa motif yang dahulu kala hanya diperuntukkan bagi golongan bangsawan.

Warnanya pun berbeda; Batik Pesisiran warna-warnanya cerah ceria sedangkan Batik Pedalaman didominasi oleh warna tanah/bumi, coklat, hitam, coklat kekuningan, biru tua.

Kalau dari proses/cara pembuatannya terbagi menjadi 3, yaitu batik tulis, batik cap dan batik kombinasi tulis & cap. Batik printing tidak termasuk dalam ketiga jenis itu, karena prosesnya bukan mengikuti proses membatik, tetapi hanya mengambil motif-motifnya.

 

Saya suka beragam motif batik dari berbagai daerah, karena masing-masing memiliki nilai estetika dan filosofinya yang merefleksikan nilai-nilai kehidupan dan harapan-harapan.

Masing-masing motif merepresentasikan nilai budaya setempat.

Dan itulah yang masih sangat ingin saya pelajari dan mencoba menghayatinya –wastra dari berbagai daerah di Indonesia ini.

More photos at goo.gl/UMm84S goo.gl/5FaAb1

 

Adakah orang terdekat (dalam keluarga/lingkup sahabat) yang belum/tidak tertarik dengan Batik?

Saya bersyukur karena dikelilingi orang-orang yang peduli pada batik/kain tradisional lainnya.

Saya juga bangga pada keempat anak saya yang tertarik dan cinta batik.

Mereka juga terlibat aktif dalam setiap kegiatan saya dalam memperkenalkan batik di tanah air dan di Canada ini.

Bahkan para sahabat saya, dengan melalui cara dan kemampuan masing-masing, juga terlibat dalam berbagai upaya pelestarian batik Nusantara.

 

Apabila ada kesempatan untuk influence Batik ke hanya satu World Leader, siapa yang akan Ibu pilih? Alasannya?

Berat sekali pertanyaannya…hehehe…

Setiap motif menyiratkan harapan nilai-nilai yang berbeda, karena itu siapapun dia sang pemimpinnya, bila mengenakan salah satu motif diharapkan dapat menerapkan nilai-nilai yang terkandung di dalam motif kain yang dipakainya tersebut.

Untuk itu, penting pula untuk mengenal karakter kepribadian sang pemimpin tersebut.

Karena batik baru akan memancarkan karisma pemakainya bila yang mengenakannya menyadari dan menghayati makna filosofisnya.

 

Ada berapa jumlah Batik yang Ibu miliki dan dari mana saja Ibu dapatkan?

Berapa lama waktu yang diperlukan Ibu untuk mengumpulkan koleksi Batik tersebut?

Batik apa (jenis, motif atau warna dan asal daerah) yang belum dimiliki Ibu?

Saya belum banyak memiliki koleksi kain batik, sebagian besar adalah pemberian dari Ibu, Nenek dan kerabat Keraton Yogyakarta, yang merupakan warisan turun temurun.

Saya masih ingin menambah koleksi kain batik dan kain tradisional lainnya dari berbagai daerah di Indonesia ini, karena masih merasa perlu banyak belajar tentang aneka ragam motif dan filosofinya, dalam upaya memahami fenomena budaya setempat.

Indonesia memiliki keragaman budaya. Sebagai insan Indonesia, sudah sewajarnyalah saya mampu memahami dan menghayati keberagaman budaya Indonesia tersebut untuk upaya melestarikannya.

 

Menurut Ibu, bagaimana cara paling efektif untuk mengenalkan Batik ke dunia International?

Menurut saya tidak hanya ada satu cara saja yang paling efektif untuk mengenalkan batik ke dunia internasional.

Yang terpenting adalah adanya kerjasama semua pihak.

Dimulai dari pendampingan para pengrajinnya di tanah air untuk senantiasa meningkatkan keterampilan dan kepekaan terhadap perkembangan minat pasar.

Juga perlu dukungan pengembangan infra struktur lingkungan sekitarnya, misalnya upaya menjaga dan meningkatkan kesuburan tanah untuk tumbuhnya tanaman yang dapat digunakan sebagai pewarna alami.

Kemudian sebagai insan Indonesia, kita perlu bertumbuh dengan memiliki kebanggaan terhadap warisan budaya bangsa, sehingga ada hasrat untuk berbagi kepada siapapun yang ditemui di dalam pergaulannya di dunia internasional.

Penyelenggaraan pameran dan workshop juga akan sangat membantu.

Dengan membagikan pengalaman langsung dalam proses membatik akan timbul apresiasi yang tinggi terhadap produk-produk batik.

Penggunaan sarana sosial media yang berkembang pesat pastilah juga akan sangat mendukung.

 

Apakah Ibu memiliki keinginan untuk menciptakan Batik sendiri, baik dari segi warna maupun motif?

Saya tidak memiliki talenta berkesenian membatik.

Saya hanya seorang pecinta dan pengagum wastra – kain tradisional.

Saya sudah akan sangat bahagia bila mendapat kesempatan untuk dapat membagikan cerita seputar kain tradisional Indonesia, termasuk batik.

Keinginan terbesar yang masih terpendam adalah untuk mengadakan suatu kegiatan yang menggabungkan dengan kemampuan saya sebagai seorang psikolog & life coach, yaitu menjadikan kegiatan membatik sebagai Therapeutic Art. Sehingga selain mendapatkan pengalaman membatik, mereka yang mencoba aktivitas membatik akan mendapatkan pula pengalaman psikologis yang positif karena akan mampu mengembangkan penghayatan makna filosofis di balik motif-motif batik, merasakan sensasi pengaruh warna & bentuk terhadap berbagai kondisi emosionalnya, sehingga diharapkan mereka akan terbantu pula untuk dapat hidup secara lebih seimbang jiwa dan raganya.

 

Apabila Ibu mempunyai 1,000,000,000 dollar, mana yang akan Ibu pilih: mengadakan tour pameran dan seminar Batik keliling dunia, membuka butik Batik High End atau ‘membayar’ artis Hollywood untuk mengenakan Batik di Red Carpet?

Menurut saya, sebetulnya tidak perlu harus dimulai dengan memiliki uang yang banyak dulu untuk dapat memperkenalkan batik dan kain tradisional lainnya kepada dunia.

Dimulai dari rasa kebanggaan kita sendiri sebagai insan Indonesia untuk mengenakannya di setiap kesempatan, ditambah dengan kemauan untuk senantiasa menambah pengetahuan tentang proses pembuatan dan makna filosofisnya agar kita mampu memancarkan kharisma dari nilai & harapan yang tersirat dari setiap motif dan memupuk bertumbuhnya hasrat untuk membagikan kebanggaan dan pengetahuan tersebut kepada orang-orang di sekitar kita, tentu akan andil dalam menjadikan batik dan kain tradisional lainnya menjadi terkenal dan lestari.

 

 

 

(Pinky Brotodiningrat)
 

 

Copyright 2018 PERMAI BC © All Rights Reserved