WAYANG KULIT: Lawatan Menuju Intisari Kehidupan

Road to ALUN-ALUN INDONESIA 2016      

alun2permai-wayang-kulit

Image: www.wayangan.com

 

 

Suatu peristiwa membanggakan terjadi tanggal 7 November 2003 ketika UNESCO secara resmi memasukkan Wayang Kulit Indonesia sebagai Karya Agung Budaya Dunia – Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity.

Wayang Kulit memang sebuah seni pertunjukan yang teramat lekat sejak lama dalam khasanah kebudayaan Indonesia. Bahkan sudah dianggap hadir semenjak abad ke 2 Masehi.

Pada masa itu, wayang, diperkirakan hanya terbuat dari rerumputan yang diikat. Dimainkan sebagai salah satu acara ritual pemujaan leluhur serta dalam berbagai upacara adat yang merupakan bagian dari kewajiban sosial, semisal usai panen padi yang melimpah ruah, kelahiran bayi atau memelihara keselamatan desa agar terhindar dari bencana alam. Memasuki periode selanjutnya, pemakaian bahan-bahan lain, seperti kulit kayu atau kulit binatang buruan mulai dikenal dalam proses pembuatan wayang kulit. Namun yang bertahan hingga kini adalah wayang dengan kulit kerbau, kulit kambing dan kulit sapi.

 

Salah satu daya tarik pagelaran wayang kulit ada pada Dhalang. Ia adalah sutradara, narator sekaligus konduktor bagi para pemain gamelan yang mengiringi pementasannya. Dengan duduk bersila menghadap sebuah layar putih, dhalang memainkan dialog dari sejumlah karakter wayang sesuai dengan tema lakon yang dipilihnya. Karena itu, dhalang harus memiliki ketrampilan mengubah-ubah suara seperti tokoh yang dimaksud. Kadangkala bersuara perempuan yang lembut, lalu berwibawa dan karismatik saat berperan sebagai Raja atau Ksatria. Kemudian di detik berikutnya, bisa berganti dengan bunyi tawa menggelegar dan teriakan membahana ketika menjelma Raksasa atau tokoh antagonis.

Semua dilakukannya sambil terus mengendalikan keselarasan antara dongeng yang disajikan dengan bunyi nada yang dihasilkan oleh gamelan.

 

Dalam terminologi bahasa Jawa, Dhalang merupakan akronim dari Ngudhal Piwulang. Ngudhal berarti menyebarluaskan, sementara Piwulang berarti ajaran. Ini bermakna bahwa dhalang mengemban tanggung-jawab menebar benih wejangan kebaikan melalui wayang kulit.

Sejarah memang memposisikan wayang kulit sebagai media hiburan sekaligus jalan untuk memahami diri, yang berujung kepada mengenal Sang Pemilik Kehidupan. Hakikatnya, kisah-kisah dalam pertunjukan wayang kulit senantiasa bertabur petuah agar mempertahankan keadaan ideal, yaitu tentang masyarakat yang makmur, tentram, aman dan adil.

 

Web Hosting
 

 

Adapun inspirasi cerita, biasanya, bersumber dari kitab klasik Mahabharata dan Bharatayudha, Ramayana serta Arjuna Wiwaha, yang telah dipentaskan sejak jaman Raja Airlangga, pemegang tampuk kekuasaan kerajaan Kahuripan, Jawa Timur, pada permulaan Abad 11.

Sebagian besar bertutur mengenai kebaikan yang pasti selalu memenangkan kejahatan.

 

Antara Pandawa (protagonis) melawan Kurawa (antagonis) dalam Mahabharata dan Bharatayudha, antara Sri Rama (protagonis) melawan Rahwana (antagonis) dalam romansa Ramayana, atau kisah Arjuna menempuh keheningan menuju Kesejatian.

Sebuah cara santun dan cerdas menyelami eksistensi sebagai manusia. Untuk apa hadir dan dihadirkan.

Dan dengan menyaksikan pementasan wayang kulit, bagaikan melakukan lawatan menuju intisari kehidupan.

 

Para Nayaka (pemain gamelan) di bawah pimpinan Bapak Sutrisno Hartana serta Bapak Hardono sebagai dhalang akan mempersembahkan Wayang Kulit, yang disebut UNESCO sebagai salah satu seni pertunjukan terindah di dunia ini, dalam acara ALUN-ALUN INDONESIA 2016 pada tanggal 8 Oktober 2016, bertempat di Nikkei Center, Burnaby, yang diselenggarakan oleh Permai BC.

 

Don’t miss it!

 

 

(Pinky Brotodiningrat)
 

 

Copyright 2018 PERMAI BC © All Rights Reserved

shares